Senin, 17 Oktober 2011

MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATA PELAJARAN PENJASORKES DI SMP NEGERI 1 PAGAR JATI BENGKULU TENGAH TUGAS MATA KULIAH MODEL PEMBELAJARAN PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN DISUSUN OLEH : Drs. WIDIYATNOLO UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah Model Pembelajaran Kooperatif Pada Pembelajaran Penjas di SMP Negeri 1 Pagar Jati Bengkulu Tengah sebagai salah satu tugas mata kuliah Model Pembelajaran Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Universitas Bengkulu. Makalah ini disusun selain sebagai tugas mata kuliah, sekaligus sebagai bahan perkuliahan yang secara praktis dapat membekali mahasiswa/ guru untuk lebih mengetahui berbagai model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif, sehingga diharapkan guru lebih baik dalam menyajikan pembelajaran dengan cara yang menarik dan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Alexon, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Model Pembelajaran 2. Drs. Ahdjafri selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Pagar Jati 3. Rekan-rekan mahasiswa program Pascasarjana Teknologi PendidikanUNIB 4. Rekan-rekan guru SMP Negeri 1 Pagar Jati Serta semua pihak yang telah membantu sehingga tersusunnya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya rekan-rekan pahlawan tanpa tanda jasa, amin. Bengkulu, 2 Mei 2011 Penulis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989: 28). Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar, keduanya terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap, dan ketrampilan. Hubungan guru dan siswa serta bahan ajar bersifat dinamis dan kompleks. Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri berbagai komponen yang saling berhubungan. Komponen tersebut meliputi : tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif. Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006:15) Menurut Slavin (2007), pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini memungkinkan adanya pertukaran ide dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika dalam proses pembelajaran. Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, maupun emosional. Ada tiga aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pencapaian aspek-aspek tersebut dapat dicapai tentu dengan upaya sungguh-sungguh dari guru dan siswa, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi prestasi siswa. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah : 1. Apakah pengertian model pembelajaran kooperatif ? 2. Bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif ? 3. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah ? C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran kooperatif. 2. Untuk mengetahui bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif. 3. Untuk melihat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh karena mereka beranggapan telah biasa melakukan model pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001:19-20) bahwa “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri “. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati,2002:25). Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Tom V. Savage (1987:239) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh teman sebaya (peerteaching) lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru. Cooperative learning adalah teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompokmkecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Hasan, 1996). Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat empat hal penting dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Nurulhayati, (2002:25-28), mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungjawaban individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok. Ketergantungan yang positif adalah suatu bentuk kerja sama yang sangat erat kaitan antara anggota kolompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan anggotanya. Sedangkan pertanggungjawaban individu adalah kelompok tergantung pada cara belajar perseorangan seluruh anggota kelompok. Pertanggungjawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap menghadapi aktivitas lain di mana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok. Kemampuan bersosialisasi adalah sebuah kemampuan bekerja sama yang biasa digunakan dalam aktivitas kelompok. Kelompok tidak berfungsi secara efektif jika siswa tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan. Setiap kelompok diberikan diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi kesempatan siswa untuk bersinergi yang menguntungkan semua anggota kelompok. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian srta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (1995) dinyatakan bahwa : (1) penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, strategi pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila : (1) guru menekankan pentingnya usaha bersama di samping usaha secara individual, (2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, (4) guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa, (5) guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan. (Sanjaya, 2006) B. Karakter, Prinsip, dan Macam-macam Model Pembelajaran Kooperatif 1. Karakteristik Model pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Karakteristik pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Pembelajaran Secara Tim. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. b. Didasarkan pada manajemen Kooperatif. Manajemen dalam hal ini memiliki tiga fungsi yaitu : (1) manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui proses perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan, (2) manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pebelajaran berjalan secara efektif, (3) manajemen sebagai kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilann baik melalui bentuk tes maupun nontes. c. Kemauan untuk Bekerja Sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran tidak akan mencapai hasil yang optimal. d. Keterampilan Bekerja Sama Kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 2. Prinsip Pembelajaran Kooperatif Menurut Roger dan David Johnson (Lie,2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : a. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan. b. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut. c. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.. d. Partisipasi dan komunikasi (partisipation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran. e. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. 3. Model-model Pembelajaran Kooperatif Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : a. Model Student Teams Achievement Division (STAD) Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di universitas John Hopkin. Menurut Slavin (2007) model STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuannya, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok bisa menguasai pelajaran tersebut. Langkah-langkah pembelajaran model STAD adalah : (1) penyampaian tujuan dan motivasi, (2) pembagian kelompok, (3) presentasi dari guru, (4) kegiatan belajar dalam tim, (5) evaluasi, dan (6) penghargaan prestasi tim. b. Model Jigsaw Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model ini mengambil pola kerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw adalah : (1) pengelompokkan siswa, (2) pemberian tugas yang berbeda tiap kelompok, (3) pembentukan kelompok ahli, (4) kelompok ahli kembali ke kelompok semula, (5) presentasi hasil diskusi, (6) pembahasan, dan (7) penutup. c. Model Investigasi Kelompok (Group Investigation) Model ini dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Penggunaan model GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi yang akan diajarkan, dan kemudian membuat laporan hasil kerja kelompok. Selanjutnya tiap kelompok mempresentasikan di kelas. Langkah-langkah pembelajaran model GI adalah : (1) mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok, (2) merencanakan tugas-tugas belajar, (3) melaksanakan investigasi, (4) menyiapkan laporan akhir, (5) presentasi hasil kelompok, (6) evaluasi. C. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif pada Pembelajaran Penjasorkes. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP/MTs : S M P Negeri 1 Pagar Jati Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : VIII (Genap ) Standar Kompetensi Mempraktikan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kompetensi Dasar Mempraktikkan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya dini, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan**) Indikator Psikomotor • Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas dan bawah bola voli. • Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas, bawah dan smash tampa awalan • Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi Kognisi • Mengetahui bentuk –bentuk kombinasi teknik dasar passing atas , bawah bola voli dan smash Afeksi • Dapat bekerjasama dengan teman dalam kelompok dan berbagi tempat serta peralatan dengan teman Alokasi Waktu : 4 x 2 x 40 menit (4 x pertemuan ) A. Tujuan Pembelajaran a. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing atas bolavoli, dengan benar b. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing bawah bolavoli, dengan benar c. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar smash bolavoli tanpa awalan, dengan benar d. Siswa dapat bermain bolavoli dengan baik menggunakan peraturan yang dimodifikasi untuk memupuk nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai teman B. Materi Pembelajaran Permainan Bolavoli • Passing atas bolavoli • Passing bawah bolavoli • Bermain bolavoli menggunakan peraturan yang dimodifikasi C. Metode Pembelajaran * Metode bermain * Metode penugasan D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran 1 Kegiatan Pendahuluan (15 menit) - Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi dan pemanasan - Memberikan motivasi dan menjelaskan tujuan pembelajaran 2 Kegiatan Inti (45 menit) Melakukan teknik dasar passing atas • Kombinasi teknik dasar (passing atas dan bawah ) dengan rincian kegiatan sebagai berikut :  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara menangkap lalu mendorong yang diawali dengan bola dilambung di tempat (berpasangan/kelompok)  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara mendorong bola di tempat (berpasangan/kelompok)  Melakukan passing atas dan bawah sambil bergerak (perorangan/kelompok)  Melakukan passing atasdan bawah langsung (berpasangan/kelompok ) • Strategi pelaksanaan dengan menggunakan model tugas/penugasan ­ guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak ­ siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya ­ siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar ­ siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri ­ bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu. ­ bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba permainan bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi. • Bermain bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi dengan menggunakan teknik dasar passing atas dan passing bawah 3 Penutup (20 Menit) - Pendinginan, berbaris, tugas-tugas, evaluasi proses pembelajaran, berdoa dan bubar E. Sumber Belajar/ Alat - Ruang terbuka yang datar dan aman - Bola - Kardus bekas - Ban bekas - Buku teks - Buku referensi, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas VIII, Jakarta : Erlangga - Lembar Kerja Proses Belajar, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan F. Penilaian 1. Teknik penilaian: - Tes unjuk kerja (psikomotor): Lakukan teknik dasar passing ( dada, pantul dan dari atas kepala) Keterangan: Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 Jumlah skor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 50 Jumlah skor maksimal - Pengamatan sikap (afeksi): Mainkan permainan bolavoli dengan peraturan yang telah dimodifikasi. Taati aturan permainan, kerjasama dengan teman satu tim dan tunjukkan perilaku sportif, keberanian, percaya diri dan menghargai teman Keterangan: Berikan tanda cek ( √ ) pada kolom yang sudah disediakan, setiap peserta ujian menunjukkan atau menampilkan perilaku yang diharapkan. Tiap perilaku yang di cek ( √ ) memdapat nilai 1 Jumlahskor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 30 Jumlah skor maksimal - Kuis/embedded test (kognisi): Jawab secara lisan atau peragakan dengan baik, pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep gerak dalam permainan bolavoli Keterangan: Penilaian terhadap kualitas jawaban peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 Jumlah skor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 20 Jumlah skor maksimal - Nilai akhir yang diperoleh siswa = RUBRIK PENILAIAN UNJUK KERJA TEKNIK DASAR PERMAINAN BOLAVOLI Aspek Yang Dinilai Kualitas Gerak 1 2 3 4 MelakukanKombinasi Teknik Dasar Passing Atas, Bawah dan Smash 1. Posisi kedua lutut saat akan melakukan passing atas direndahkan 2. Bentuk gerakan lengan saat melakukan passing atas dan bawah mendorong bola ke depan atas 3. Posisi badan yang benar saat akan melakukan passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli tegak 4. Bentuk arah bola hasil passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli berbentuk parabola 5. Bentuk gerakan tangan saat melakukan smash gerak memukul ke arah bawah hingga arah bola menukik 6. Posisi telapak tangan saat melakukan smash dengan jari-jari terbuka 7. Saat melakukan teknik gerakan, bola selalu dalam kontrol JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 16 RUBRIK PENILAIAN PERILAKU DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PERILAKU YANG DIHARAPKAN CEK (√ ) 1. Bekerja sama dengan teman satu tim 2. Keberanian dalam melakukan gerakan (tidak ragu-ragu) 3. Mentaati peraturan 4. Menghormati wasit(sportif) 5. Menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dalam bermain JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 5 RUBRIK PENILAIAN PEMAHAMAN KONSEP GERAK DALAM PERMAINAN BOLABASKET Pertanyaan yang diajukan Kualitas Jawaban 1 2 3 4 1. Bagaimana posisi kedua lengan saat kamu passing bawah dalam permainan bolavoli ? 2. Bagaimana posisi kedua telapak tangan saat kamu passing atas dalam permainan bolavoli ? 3. Bagaimana posisi telapak tangan saat kamu melakukan pukulan smash dalam permainan bolavoli ? JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 8 MENGETAHUI, GURU MATA PELAJARAN KEPALA SEKOLAH Drs. Ahdjafri Drs. WIDIYATNOLO NIP. 19651121 198803 1 006 NIP. 19680124 199702 1 001 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda 2. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada heterogenitas, kerja sama dan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa (komunikasi transaksi), sehingga mereka dapat menemukan dan mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. 3. Pada intinya dari semua model pembelajaran kooperatif yang ada, dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, namun perlu disesuaikan dengan materi yang diajarkan. B. Saran 1. Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. 2. Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATA PELAJARAN PENJASORKES DI SMP NEGERI 1 PAGAR JATI BENGKULU TENGAH TUGAS MATA KULIAH MODEL PEMBELAJARAN PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN DISUSUN OLEH : Drs. WIDIYATNOLO UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah Model Pembelajaran Kooperatif Pada Pembelajaran Penjas di SMP Negeri 1 Pagar Jati Bengkulu Tengah sebagai salah satu tugas mata kuliah Model Pembelajaran Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Universitas Bengkulu. Makalah ini disusun selain sebagai tugas mata kuliah, sekaligus sebagai bahan perkuliahan yang secara praktis dapat membekali mahasiswa/ guru untuk lebih mengetahui berbagai model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif, sehingga diharapkan guru lebih baik dalam menyajikan pembelajaran dengan cara yang menarik dan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Alexon, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Model Pembelajaran 2. Drs. Ahdjafri selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Pagar Jati 3. Rekan-rekan mahasiswa program Pascasarjana Teknologi PendidikanUNIB 4. Rekan-rekan guru SMP Negeri 1 Pagar Jati Serta semua pihak yang telah membantu sehingga tersusunnya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya rekan-rekan pahlawan tanpa tanda jasa, amin. Bengkulu, 2 Mei 2011 Penulis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989: 28). Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar, keduanya terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap, dan ketrampilan. Hubungan guru dan siswa serta bahan ajar bersifat dinamis dan kompleks. Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri berbagai komponen yang saling berhubungan. Komponen tersebut meliputi : tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif. Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006:15) Menurut Slavin (2007), pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini memungkinkan adanya pertukaran ide dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika dalam proses pembelajaran. Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, maupun emosional. Ada tiga aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pencapaian aspek-aspek tersebut dapat dicapai tentu dengan upaya sungguh-sungguh dari guru dan siswa, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi prestasi siswa. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah : 1. Apakah pengertian model pembelajaran kooperatif ? 2. Bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif ? 3. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah ? C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran kooperatif. 2. Untuk mengetahui bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif. 3. Untuk melihat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh karena mereka beranggapan telah biasa melakukan model pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001:19-20) bahwa “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri “. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati,2002:25). Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Tom V. Savage (1987:239) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh teman sebaya (peerteaching) lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru. Cooperative learning adalah teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompokmkecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Hasan, 1996). Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat empat hal penting dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Nurulhayati, (2002:25-28), mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungjawaban individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok. Ketergantungan yang positif adalah suatu bentuk kerja sama yang sangat erat kaitan antara anggota kolompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan anggotanya. Sedangkan pertanggungjawaban individu adalah kelompok tergantung pada cara belajar perseorangan seluruh anggota kelompok. Pertanggungjawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap menghadapi aktivitas lain di mana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok. Kemampuan bersosialisasi adalah sebuah kemampuan bekerja sama yang biasa digunakan dalam aktivitas kelompok. Kelompok tidak berfungsi secara efektif jika siswa tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan. Setiap kelompok diberikan diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi kesempatan siswa untuk bersinergi yang menguntungkan semua anggota kelompok. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian srta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (1995) dinyatakan bahwa : (1) penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, strategi pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila : (1) guru menekankan pentingnya usaha bersama di samping usaha secara individual, (2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, (4) guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa, (5) guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan. (Sanjaya, 2006) B. Karakter, Prinsip, dan Macam-macam Model Pembelajaran Kooperatif 1. Karakteristik Model pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Karakteristik pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Pembelajaran Secara Tim. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. b. Didasarkan pada manajemen Kooperatif. Manajemen dalam hal ini memiliki tiga fungsi yaitu : (1) manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui proses perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan, (2) manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pebelajaran berjalan secara efektif, (3) manajemen sebagai kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilann baik melalui bentuk tes maupun nontes. c. Kemauan untuk Bekerja Sama Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran tidak akan mencapai hasil yang optimal. d. Keterampilan Bekerja Sama Kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 2. Prinsip Pembelajaran Kooperatif Menurut Roger dan David Johnson (Lie,2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : a. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan. b. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut. c. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.. d. Partisipasi dan komunikasi (partisipation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran. e. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. 3. Model-model Pembelajaran Kooperatif Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : a. Model Student Teams Achievement Division (STAD) Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di universitas John Hopkin. Menurut Slavin (2007) model STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuannya, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok bisa menguasai pelajaran tersebut. Langkah-langkah pembelajaran model STAD adalah : (1) penyampaian tujuan dan motivasi, (2) pembagian kelompok, (3) presentasi dari guru, (4) kegiatan belajar dalam tim, (5) evaluasi, dan (6) penghargaan prestasi tim. b. Model Jigsaw Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model ini mengambil pola kerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw adalah : (1) pengelompokkan siswa, (2) pemberian tugas yang berbeda tiap kelompok, (3) pembentukan kelompok ahli, (4) kelompok ahli kembali ke kelompok semula, (5) presentasi hasil diskusi, (6) pembahasan, dan (7) penutup. c. Model Investigasi Kelompok (Group Investigation) Model ini dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Penggunaan model GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi yang akan diajarkan, dan kemudian membuat laporan hasil kerja kelompok. Selanjutnya tiap kelompok mempresentasikan di kelas. Langkah-langkah pembelajaran model GI adalah : (1) mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok, (2) merencanakan tugas-tugas belajar, (3) melaksanakan investigasi, (4) menyiapkan laporan akhir, (5) presentasi hasil kelompok, (6) evaluasi. C. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif pada Pembelajaran Penjasorkes. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP/MTs : S M P Negeri 1 Pagar Jati Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : VIII (Genap ) Standar Kompetensi Mempraktikan berbagai teknik dasar permainan dan olahraga, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kompetensi Dasar Mempraktikkan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan baik serta nilai kerjasama, toleransi, percaya dini, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan**) Indikator Psikomotor • Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas dan bawah bola voli. • Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas, bawah dan smash tampa awalan • Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi Kognisi • Mengetahui bentuk –bentuk kombinasi teknik dasar passing atas , bawah bola voli dan smash Afeksi • Dapat bekerjasama dengan teman dalam kelompok dan berbagi tempat serta peralatan dengan teman Alokasi Waktu : 4 x 2 x 40 menit (4 x pertemuan ) A. Tujuan Pembelajaran a. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing atas bolavoli, dengan benar b. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing bawah bolavoli, dengan benar c. Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar smash bolavoli tanpa awalan, dengan benar d. Siswa dapat bermain bolavoli dengan baik menggunakan peraturan yang dimodifikasi untuk memupuk nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai teman B. Materi Pembelajaran Permainan Bolavoli • Passing atas bolavoli • Passing bawah bolavoli • Bermain bolavoli menggunakan peraturan yang dimodifikasi C. Metode Pembelajaran * Metode bermain * Metode penugasan D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran 1 Kegiatan Pendahuluan (15 menit) - Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi dan pemanasan - Memberikan motivasi dan menjelaskan tujuan pembelajaran 2 Kegiatan Inti (45 menit) Melakukan teknik dasar passing atas • Kombinasi teknik dasar (passing atas dan bawah ) dengan rincian kegiatan sebagai berikut :  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara menangkap lalu mendorong yang diawali dengan bola dilambung di tempat (berpasangan/kelompok)  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara mendorong bola di tempat (berpasangan/kelompok)  Melakukan passing atas dan bawah sambil bergerak (perorangan/kelompok)  Melakukan passing atasdan bawah langsung (berpasangan/kelompok ) • Strategi pelaksanaan dengan menggunakan model tugas/penugasan ­ guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak ­ siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya ­ siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar ­ siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri ­ bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu. ­ bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba permainan bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi. • Bermain bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi dengan menggunakan teknik dasar passing atas dan passing bawah 3 Penutup (20 Menit) - Pendinginan, berbaris, tugas-tugas, evaluasi proses pembelajaran, berdoa dan bubar E. Sumber Belajar/ Alat - Ruang terbuka yang datar dan aman - Bola - Kardus bekas - Ban bekas - Buku teks - Buku referensi, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas VIII, Jakarta : Erlangga - Lembar Kerja Proses Belajar, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan F. Penilaian 1. Teknik penilaian: - Tes unjuk kerja (psikomotor): Lakukan teknik dasar passing ( dada, pantul dan dari atas kepala) Keterangan: Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 Jumlah skor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 50 Jumlah skor maksimal - Pengamatan sikap (afeksi): Mainkan permainan bolavoli dengan peraturan yang telah dimodifikasi. Taati aturan permainan, kerjasama dengan teman satu tim dan tunjukkan perilaku sportif, keberanian, percaya diri dan menghargai teman Keterangan: Berikan tanda cek ( √ ) pada kolom yang sudah disediakan, setiap peserta ujian menunjukkan atau menampilkan perilaku yang diharapkan. Tiap perilaku yang di cek ( √ ) memdapat nilai 1 Jumlahskor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 30 Jumlah skor maksimal - Kuis/embedded test (kognisi): Jawab secara lisan atau peragakan dengan baik, pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep gerak dalam permainan bolavoli Keterangan: Penilaian terhadap kualitas jawaban peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4 Jumlah skor yang diperoleh Nilai = ----------------------------------------- X 20 Jumlah skor maksimal - Nilai akhir yang diperoleh siswa = RUBRIK PENILAIAN UNJUK KERJA TEKNIK DASAR PERMAINAN BOLAVOLI Aspek Yang Dinilai Kualitas Gerak 1 2 3 4 MelakukanKombinasi Teknik Dasar Passing Atas, Bawah dan Smash 1. Posisi kedua lutut saat akan melakukan passing atas direndahkan 2. Bentuk gerakan lengan saat melakukan passing atas dan bawah mendorong bola ke depan atas 3. Posisi badan yang benar saat akan melakukan passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli tegak 4. Bentuk arah bola hasil passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli berbentuk parabola 5. Bentuk gerakan tangan saat melakukan smash gerak memukul ke arah bawah hingga arah bola menukik 6. Posisi telapak tangan saat melakukan smash dengan jari-jari terbuka 7. Saat melakukan teknik gerakan, bola selalu dalam kontrol JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 16 RUBRIK PENILAIAN PERILAKU DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PERILAKU YANG DIHARAPKAN CEK (√ ) 1. Bekerja sama dengan teman satu tim 2. Keberanian dalam melakukan gerakan (tidak ragu-ragu) 3. Mentaati peraturan 4. Menghormati wasit(sportif) 5. Menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dalam bermain JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 5 RUBRIK PENILAIAN PEMAHAMAN KONSEP GERAK DALAM PERMAINAN BOLABASKET Pertanyaan yang diajukan Kualitas Jawaban 1 2 3 4 1. Bagaimana posisi kedua lengan saat kamu passing bawah dalam permainan bolavoli ? 2. Bagaimana posisi kedua telapak tangan saat kamu passing atas dalam permainan bolavoli ? 3. Bagaimana posisi telapak tangan saat kamu melakukan pukulan smash dalam permainan bolavoli ? JUMLAH JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 8 MENGETAHUI, GURU MATA PELAJARAN KEPALA SEKOLAH Drs. Ahdjafri Drs. WIDIYATNOLO NIP. 19651121 198803 1 006 NIP. 19680124 199702 1 001 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda 2. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada heterogenitas, kerja sama dan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa (komunikasi transaksi), sehingga mereka dapat menemukan dan mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. 3. Pada intinya dari semua model pembelajaran kooperatif yang ada, dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, namun perlu disesuaikan dengan materi yang diajarkan. B. Saran 1. Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. 2. Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.


MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATA PELAJARAN PENJASORKES
DI SMP NEGERI 1 PAGAR JATI BENGKULU TENGAH

TUGAS MATA KULIAH  MODEL PEMBELAJARAN
PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN


DISUSUN OLEH :
Drs. WIDIYATNOLO








UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN 2011





KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah  Model Pembelajaran Kooperatif Pada Pembelajaran Penjas di SMP Negeri 1 Pagar Jati Bengkulu Tengah sebagai salah satu tugas mata kuliah Model Pembelajaran Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan Universitas Bengkulu.
            Makalah ini disusun selain sebagai tugas mata kuliah, sekaligus sebagai bahan perkuliahan yang secara praktis dapat membekali mahasiswa/ guru untuk lebih mengetahui berbagai model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif, sehingga diharapkan guru lebih baik dalam menyajikan pembelajaran dengan cara yang  menarik dan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa.
            Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Dr. Alexon, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Model Pembelajaran
2.      Drs. Ahdjafri selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Pagar Jati
3.      Rekan-rekan mahasiswa program Pascasarjana Teknologi PendidikanUNIB
4.      Rekan-rekan guru SMP Negeri 1 Pagar Jati
Serta semua pihak yang telah membantu sehingga tersusunnya makalah ini.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi  pembaca khususnya rekan-rekan pahlawan tanpa tanda jasa, amin.


                                                                                                  Bengkulu,  2 Mei 2011
                                                                                                            Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989: 28).
Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar, keduanya terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap, dan ketrampilan. Hubungan guru dan siswa serta bahan ajar bersifat dinamis dan kompleks.
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri berbagai komponen yang saling berhubungan.
Komponen tersebut meliputi : tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
            Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif. Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006:15)
            Menurut Slavin (2007), pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini memungkinkan adanya pertukaran ide dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika dalam proses pembelajaran.
            Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, maupun emosional. Ada tiga aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pencapaian aspek-aspek tersebut dapat dicapai tentu dengan upaya sungguh-sungguh dari guru dan siswa, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi prestasi siswa.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apakah pengertian model pembelajaran kooperatif ?
2.      Bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif ?
3.      Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah ?

C.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran kooperatif.
2.      Untuk mengetahui bagaimana karakter, prinsip, dan macam-macam model pembelajaran kooperatif.
3.      Untuk melihat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok  yang bersifat heterogen.
Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh karena mereka beranggapan telah biasa melakukan model pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001:19-20) bahwa “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri “.
Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati,2002:25). Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.
Tom V. Savage (1987:239) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran  tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh teman sebaya (peerteaching) lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.
Cooperative learning adalah teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil. Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompokmkecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Hasan, 1996).

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat empat hal penting dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.
Nurulhayati, (2002:25-28), mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif, yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungjawaban individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok.
Ketergantungan yang positif adalah suatu bentuk kerja sama yang sangat erat kaitan antara anggota kolompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti  bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan anggotanya.
Sedangkan pertanggungjawaban individu adalah kelompok tergantung pada cara belajar perseorangan seluruh anggota kelompok. Pertanggungjawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap menghadapi  aktivitas lain di mana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok. Kemampuan bersosialisasi adalah sebuah kemampuan bekerja sama yang biasa digunakan dalam aktivitas kelompok. Kelompok tidak berfungsi secara efektif jika siswa tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan.
Setiap kelompok diberikan diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi kesempatan siswa untuk bersinergi yang menguntungkan semua anggota kelompok. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian srta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (1995) dinyatakan bahwa : (1) penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, strategi pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila : (1) guru menekankan pentingnya usaha bersama di samping usaha secara individual, (2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, (4) guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa, (5) guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan. (Sanjaya, 2006)

B.     Karakter, Prinsip, dan Macam-macam Model Pembelajaran Kooperatif
1.      Karakteristik Model pembelajaran Kooperatif.
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif.
Karakteristik pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.      Pembelajaran Secara Tim.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.      Didasarkan pada manajemen Kooperatif.
Manajemen dalam hal ini memiliki tiga fungsi yaitu : (1) manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui proses perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan, (2) manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pebelajaran berjalan secara efektif, (3) manajemen sebagai kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilann baik melalui bentuk tes maupun nontes.
c.       Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran tidak akan mencapai hasil yang optimal.

d.      Keterampilan Bekerja Sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

2.      Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Lie,2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :
a.       Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
b.      Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab  yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
c.       Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain..
d.      Partisipasi dan komunikasi (partisipation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
e.       Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

3.      Model-model Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :
a.      Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di universitas John Hopkin.
Menurut Slavin (2007) model STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Dalam STAD, siswa dibagi menjadi  kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuannya, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok bisa menguasai pelajaran tersebut.
Langkah-langkah pembelajaran model STAD adalah : (1) penyampaian tujuan dan motivasi, (2) pembagian kelompok, (3) presentasi dari guru, (4) kegiatan belajar dalam tim, (5) evaluasi, dan (6) penghargaan prestasi tim.
b.      Model Jigsaw
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas.
Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model ini mengambil pola kerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. 
Langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw adalah : (1) pengelompokkan siswa, (2) pemberian tugas yang berbeda tiap kelompok, (3) pembentukan kelompok ahli, (4) kelompok ahli kembali ke kelompok semula, (5) presentasi hasil diskusi, (6) pembahasan, dan (7) penutup.
c.       Model Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Model ini dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel.
Penggunaan model GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap  kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi yang akan diajarkan, dan kemudian membuat laporan hasil kerja kelompok. Selanjutnya tiap kelompok mempresentasikan di kelas.
Langkah-langkah pembelajaran model GI adalah : (1) mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok, (2) merencanakan tugas-tugas belajar, (3) melaksanakan investigasi, (4) menyiapkan laporan akhir, (5) presentasi hasil kelompok, (6) evaluasi.

C.     Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif pada Pembelajaran Penjasorkes.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SMP/MTs                                  :   S M P  Negeri 1 Pagar Jati

Mata Pelajaran                         :   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelas/Semester                        :  VIII (Genap )

              Standar Kompetensi     
              Mempraktikan berbagai teknik dasar permainan dan  olahraga, dan nilai-nilai yang terkandung di  dalamnya.



Kompetensi Dasar               
Mempraktikkan  kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar lanjutan dengan  baik  serta  nilai kerjasama, toleransi, percaya dini, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan peralatan**)

Indikator
Psikomotor
·   Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas dan bawah bola voli.
·   Melakukan kombinasi teknik dasar passing atas, bawah dan smash tampa awalan
·   Bermain dengan peraturan yang dimodifikasi

 Kognisi
·   Mengetahui bentuk –bentuk kombinasi teknik dasar passing atas , bawah bola voli dan smash
 Afeksi
·   Dapat bekerjasama dengan teman dalam kelompok dan  berbagi tempat serta peralatan dengan teman
                                           
Alokasi Waktu                  :  4 x 2 x 40 menit (4 x pertemuan )

A.    Tujuan Pembelajaran
a.     Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing atas bolavoli, dengan benar
b.    Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar passing bawah bolavoli, dengan benar
c.     Siswa dapat melakukan kombinasi teknik dasar smash bolavoli tanpa awalan, dengan benar
d.    Siswa dapat bermain bolavoli dengan baik menggunakan peraturan yang dimodifikasi untuk memupuk nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, keberanian, menghargai teman
B.    Materi Pembelajaran
Permainan Bolavoli
·         Passing atas bolavoli
·         Passing bawah bolavoli
·         Bermain bolavoli menggunakan peraturan yang dimodifikasi
C.  Metode Pembelajaran
      *  Metode bermain
      *  Metode penugasan
D.  Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
1   Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
-    Berbaris, berdoa, presensi, apersepsi dan pemanasan
-    Memberikan motivasi dan menjelaskan tujuan pembelajaran

2   Kegiatan Inti (45 menit)
Melakukan teknik dasar passing atas
·   Kombinasi teknik dasar (passing atas dan bawah ) dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
§  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara menangkap lalu mendorong yang diawali dengan bola dilambung di tempat  (berpasangan/kelompok)
§  Melakukan passing atas dan bawah dengan cara mendorong bola di tempat (berpasangan/kelompok)
§  Melakukan passing atas dan bawah sambil bergerak (perorangan/kelompok)
§  Melakukan passing atasdan bawah langsung  (berpasangan/kelompok )
·         Strategi pelaksanaan dengan menggunakan model tugas/penugasan
­   guru membagikan bahan ajar, yang berisi deskripsi tugas dan indikator tugas gerak
­   siswa mempelajari tugas ajar dan indikator keberhasilannya
­   siswa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai ketuntasan tugas ajar
­   siswa melaksanakan tugas ajar sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan sendiri
­   bagi siswa yang belum mampu mencapai target belajar sesuai dengan alokasi waktunya, maka mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki target waktu.
­   bagi siswa yang telah berhasil mencapai target sesuai dengan waktu atau lebih cepat, maka mereka diberi kesempatan untuk mencoba permainan bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi.
·         Bermain bolavoli dengan peraturan yang dimodifikasi dengan menggunakan teknik dasar passing atas dan passing bawah


3         Penutup (20 Menit)                                                                  
-    Pendinginan, berbaris, tugas-tugas, evaluasi proses pembelajaran, berdoa dan bubar
                                                                           
E.  Sumber Belajar/ Alat
-          Ruang terbuka yang datar dan aman
-          Bola
-          Kardus bekas
-          Ban bekas
-          Buku teks
-          Buku referensi, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas VIII, Jakarta : Erlangga
-          Lembar Kerja Proses Belajar, Roji, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan




F.  Penilaian
        1.    Teknik penilaian:
- Tes unjuk kerja (psikomotor): 
    Lakukan teknik dasar passing ( dada, pantul dan dari atas kepala)
Keterangan:
Penilaian terhadap kualitas unjuk kerja peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4

                            Jumlah skor yang diperoleh
Nilai =  ----------------------------------------- X 50
                            Jumlah skor maksimal

- Pengamatan sikap (afeksi): 
    Mainkan permainan bolavoli dengan peraturan yang telah dimodifikasi.  Taati aturan permainan, kerjasama dengan teman satu tim dan tunjukkan perilaku sportif, keberanian, percaya diri dan menghargai teman
Keterangan:
Berikan tanda cek ( √ ) pada kolom yang sudah disediakan, setiap peserta ujian menunjukkan atau menampilkan perilaku yang diharapkan.  Tiap perilaku yang di cek ( √ ) memdapat nilai 1

Jumlahskor yang diperoleh
Nilai  =  ----------------------------------------- X 30
Jumlah skor maksimal
                           
-  Kuis/embedded test (kognisi):
Jawab secara lisan atau peragakan dengan baik, pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep gerak dalam permainan bolavoli
Keterangan:
Penilaian terhadap kualitas jawaban peserta ujian, dengan rentang nilai antara 1 sampai dengan 4
Jumlah skor yang diperoleh
Nilai =  ----------------------------------------- X 20
Jumlah skor maksimal

-    Nilai akhir yang diperoleh siswa =

Nilai tes unjuk kerja + nilai observasi + nilai kuis
               
                                               
   





























RUBRIK PENILAIAN
UNJUK KERJA TEKNIK DASAR PERMAINAN BOLAVOLI

Aspek Yang Dinilai
Kualitas Gerak
1
2
3
4
    MelakukanKombinasi Teknik Dasar Passing Atas, Bawah dan Smash
1.       Posisi kedua lutut saat akan melakukan passing atas direndahkan
2.       Bentuk gerakan lengan saat melakukan passing atas dan bawah mendorong bola ke depan atas
3.       Posisi badan yang benar saat akan melakukan passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli tegak
4.       Bentuk arah bola hasil passing atas dan bawah dalam permainan bolavoli berbentuk parabola
5.       Bentuk gerakan tangan saat melakukan smash  gerak memukul ke arah bawah hingga arah bola menukik
6.       Posisi telapak tangan saat melakukan smash dengan jari-jari terbuka
7.       Saat melakukan teknik gerakan, bola selalu dalam kontrol




JUMLAH

JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 16





RUBRIK PENILAIAN
PERILAKU DALAM PERMAINAN BOLAVOLI

PERILAKU YANG DIHARAPKAN
CEK (√ )
1.  Bekerja sama dengan teman satu tim

2.  Keberanian dalam melakukan gerakan (tidak ragu-ragu)

3.  Mentaati peraturan

4.  Menghormati wasit(sportif)

5.  Menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dalam bermain

JUMLAH

JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 5





RUBRIK PENILAIAN
PEMAHAMAN KONSEP GERAK DALAM PERMAINAN BOLABASKET

Pertanyaan yang diajukan
Kualitas Jawaban
1
2
3
4

1.         Bagaimana posisi kedua lengan saat kamu passing bawah dalam permainan bolavoli ?

2.         Bagaimana posisi kedua telapak tangan saat kamu passing atas dalam permainan bolavoli ?

3.         Bagaimana posisi telapak tangan saat kamu melakukan pukulan smash dalam permainan bolavoli ?






JUMLAH

JUMLAH SKOR MAKSIMAL: 8



       MENGETAHUI,                                                                                      GURU MATA PELAJARAN
    KEPALA SEKOLAH                                                                                                                            


          Drs. Ahdjafri                                                                                              Drs. WIDIYATNOLO
NIP. 19651121 198803 1 006                                                                NIP. 19680124 199702 1 001      

           




BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

1.    Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda
2.    Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada heterogenitas, kerja sama dan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa (komunikasi transaksi), sehingga mereka dapat menemukan dan mengembangkan kompetensi yang dimilikinya.
3.    Pada intinya dari semua model pembelajaran kooperatif yang ada, dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, namun perlu disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
B.   Saran

1.    Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
2.    Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar